kamila maysa maharani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

pena biru

Kamila maysa maharani

XI IPA 1

"KAMU INI NIAT SEKOLAH ATAU TIDAK?! KENAPA NILAI KAMU TETAP SEPERTI INI?!" suara teriakan yang begitu keras menusuk kuping ku, tubuhku bergemetar, rasa antara takut dan marah bercampur dalam hati ku, ku kepalkan kedua tanganku kuat-kuat serasa ingin menghempaskannya tepat di wajah seseorang yang ada didepanku, dia adalah guru matematika ku atau lebih tepatnya dia adalah wali kelas ku. teriakannya yang begitu menyayat telinga sudah tidaklah asing bagi warga sekolah, beliau terkenal sebagai guru yang sangat menyeramkan, namun tidak berati dia sangat ditakuti, melainkan dia selalu diperlakukan semena-mena oleh murid disekolah ini karena memang banyak yang tidak menyukainya. aku adalah salah satu muridnya yang selalu gagal dalam pelajaran matematika, aku frustasi dan entah aku akan menjadi apa nantinya.

hari itu adalah hari ulangan harian, seperti biasa kami semua mengerjakan soal-soal yang telah terbentang didepan mata, seolah mengeluarkan energi panas sehingga membuat kamu semua berkeringat, semua tegang ditambah keheningan dan lirikan dari guru kami yang sangat kami takuti. aku seperti biasa hanya bisa melamun dengan pikiran kosong, rasanya semua pelajaran yang aku baca kemarin hilang sekejap tanpa sisa. datanglah seseorang berpakaian serba hitam dengan tatapan mencekam meraih pundakku dan berkata, "apa yang kamu lakukan? kamu tidak lihat jam berapa sekarang? soal-soal itu tidak akan terisi bila kamu hanya diam tanpa berusaha mengerjakan apapun!" suara yang pelan namun membuat seluruh badanku bergemetar, membuatku terdiam membatu sembari menganggukkan kepalaku pertanya mengiyakan perkataannya, aku langsung mengerjakan soal-soal matematika itu dan tidak perduli apakah jawabanku sudah tepat atau belum, sampai akhirnya guru itu pun pergi.

keesokan harinya, hari dimana pertemuan kami dengan guru besar kami, hari dimana hasil ujian itu dibagikan, aku tidak akan menantikan ataupun terkejut dengan saat-saat ini karena aku sudah tau jawabannya. "ABSEN NOMOR 12, MAJU!!" teriakan yang membuat seluruh murid terdiam membatu, beberapa pun melirik kearahku dan seperti yang aku duga, nilaiku ternyata paling rendah dikelas ini, aku sudah menduga terdapat coretan yang berasal dari pena berwarna merah, tanda bahwa seluruh jawabanku salah, aku tidak akan bersedih karena aku tau ini salahku, aku pun mengambil kertas hasil ujianku lalu pergi, sang guru menatapku dengan tajam lalu berkata, "bila kamu tidak menghasilkan perubahan, saya sudah tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya" aku pun terdiam dan merenung, aku melirik kearah kertas ujian milik temanku, tidak ada satupun tinta merah dikertas miliknya, sang empunya pun hanya bisa menatapku tanda prihatin, aku tak suka tatapan itu.

malam itu, aku bersedih, aku menangis tanpa suara, aku menyesal mengapa aku begitu lemah dalam pelajaran ini, diriku terlalu sering dimarahi sampai aku pun kehilangan rasa malu ku didepan teman-teman kelas ku, aku pun bertekad, aku ingin sekali mendapatkan coretan garis tinta biru dari pena milik sang guru itu, aku pun berdoa meminta izin tuhan dan aku mulai belajar.

hari demi hari, aku menunjukkan bahwa aku bisa berubah, aku memiliki perubahan yang sangat besar sehingga seluruh guru pun melirik kearah ku, tiba lah hari dimana ujian akhir semester dimulai, aku melaksanakan ujian dengan tenang tanpa tanda-tanda apapun, sampai semua orang terheran bagaimana aku bisa mencapai perubahan ini. saat ujian terakhir selesai, aku pun diminta untuk datang kedalam ruangan guru, disana ku lihat guru ku yang menggunakan pakaian serba hitam sebagaimana ciri khas miliknya, dia pun menatapku lalu tersenyum, dia memberikan kertas hasil ujianku yang seluruhnya tercoret garis tinta biru seperti yang aku harapkan, lalu beliau berkata "saya bangga kepadamu, janganlah kamu membenci saya karena yang saya lakukan itu demi kamu, apa kamu bangga dengan dirimu yang sekarang? jika iya maka saya tidak akan menyesal untuk pernah memarahimu, kamu adalah murid saya, saya ingin kamu menjadi bintang dilangit sana, saya harap kamu mengerti dan paham dengan apa yang saya lakukan kepadamu." ujarnya sembari meraih pundakku dan menepuknya pelan. aku pun tersenyum lebar lalu sementara itu mata ku menitikan air mata tanda bahagia, di hari itu aku pun tersadar bahwa tidak ada yang namanya guru jahat atau kejam, mereka hanya melakukan hal yang terbaik untuk para muridnya namun dengan caranya masing-masing, terima kasih guru.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali